SAMARINDA

Pasar Pagi Belum Optimal, DPRD Samarinda Soroti Kemudahan Akses Konsumen

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi

Gemanusantara.com – Konsep pengelolaan Pasar Pagi Samarinda dinilai perlu menyesuaikan kebiasaan masyarakat yang menginginkan proses berbelanja secara praktis. DPRD Kota Samarinda menilai kemudahan akses konsumen menjadi salah satu faktor penting agar aktivitas perdagangan di pasar tersebut kembali ramai.

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, mengatakan masyarakat cenderung menginginkan kemudahan ketika berbelanja, mulai dari datang menggunakan kendaraan, memperoleh barang yang dibutuhkan hingga meninggalkan lokasi tanpa proses yang rumit. Karakter tersebut perlu diperhitungkan dalam pengelolaan bangunan Pasar Pagi yang terdiri atas beberapa lantai.

Menurutnya, evaluasi tidak berarti konsep pembangunan pasar dianggap gagal. Pemerintah justru perlu mencari penyesuaian agar fasilitas yang telah dibangun dapat digunakan secara optimal sekaligus memberikan kemudahan bagi masyarakat.

“Kebiasaan masyarakat kita cenderung ingin serba praktis. Mereka datang membawa kendaraan, mencari barang yang diperlukan, kemudian langsung melanjutkan aktivitas. Pola seperti ini perlu diperhitungkan dalam mengelola pasar,” ujar Iswandi, Sabtu (3/10/2026).

Pemkot Samarinda sendiri telah menjalankan sejumlah langkah untuk menghidupkan aktivitas perdagangan Pasar Pagi. Selain melakukan penataan kios dan membahas pola perdagangan grosir maupun eceran, pemerintah mendorong pedagang memperluas pemasaran melalui kanal digital.

Pada September 2026, pelatihan pemanfaatan artificial intelligence (AI) juga diberikan untuk membantu pedagang mengenalkan produknya kepada konsumen secara lebih luas. Namun, Iswandi menilai strategi promosi harus berjalan seiring dengan perbaikan pengalaman masyarakat ketika datang langsung ke pasar.

“Promosi bisa membuat orang tertarik untuk datang. Tetapi setelah itu, akses yang mudah dan kenyamanan ketika berada di pasar yang akan menentukan apakah mereka tertarik berbelanja kembali,” katanya.

Karena itu, tanggung jawab menghidupkan Pasar Pagi dinilai tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pedagang untuk beradaptasi dengan digitalisasi. Sistem pengelolaan pasar juga perlu berubah mengikuti kebutuhan dan perilaku konsumen.

Iswandi menilai evaluasi idealnya melibatkan pemerintah kota, DPRD, pedagang serta pihak yang memahami perilaku konsumen. Dengan begitu, pembenahan tidak hanya melihat tingkat keterisian kios maupun pengelolaan bangunan, tetapi juga pengalaman masyarakat sebagai pembeli.

“Jangan hanya pedagang yang terus dituntut beradaptasi. Pengelolaan pasarnya juga harus menyesuaikan perkembangan kebutuhan konsumen agar aktivitas perdagangan bisa kembali bergerak,” imbuhnya.

Penyesuaian tersebut diharapkan membuat fasilitas Pasar Pagi dapat dimanfaatkan secara maksimal dan mendorong masyarakat kembali berbelanja langsung. Dengan meningkatnya kunjungan konsumen, aktivitas ekonomi pedagang di berbagai bagian pasar juga diharapkan ikut tumbuh.

[ADV | DPRD SAMARINDA]

Related Articles

Back to top button