Antrean BBM Ganggu Distribusi, Harga Bahan Pokok di Samarinda Mulai Terkerek

Gemanusantara.com – Gangguan distribusi mulai terasa di Samarinda seiring munculnya antrean panjang di sejumlah SPBU. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pengendara, tetapi juga mulai dirasakan pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran pasokan barang.
Di pasar, beberapa komoditas perlahan menunjukkan kenaikan harga. Tomat, ikan tongkol, hingga minyak goreng mulai bergerak naik, sementara beras dari luar daerah ikut terdampak lonjakan biaya angkut.
Situasi ini tidak lepas dari tersendatnya distribusi akibat waktu tunggu pengisian BBM yang semakin panjang. Bagi pelaku logistik, kondisi tersebut berarti tambahan biaya operasional yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual.
Asisten II Bidang Perekonomian Setda Samarinda, Marnabas, membenarkan bahwa antrean BBM menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan distribusi barang.
“Kalau waktu tunggu terlalu lama, otomatis biaya angkut naik. Itu yang kemudian berpengaruh ke harga di pasar,” ungkap Marnabas, Kamis (23/4/2026).
Salah satu dampak paling terasa terjadi pada distribusi beras dari luar daerah. Biaya pengangkutan yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.000 kini naik menjadi sekitar Rp12.000, menambah tekanan pada harga jual di tingkat konsumen.
Untuk meredam dampak tersebut, Pemkot Samarinda berencana menggelar operasi pasar di sejumlah titik, termasuk Pasar Segiri. Sejumlah komoditas akan dijual di bawah harga pasar guna menjaga keterjangkauan masyarakat.
Namun langkah ini dipastikan tidak akan dilakukan secara masif. Pemerintah menilai intervensi berlebihan justru berisiko mengganggu pedagang di pasar.
“Operasi pasar tetap kita lakukan, tapi harus terukur supaya tidak menimbulkan dampak lain,” kata Marnabas.
Selain itu, pemerintah juga mulai mengkaji skema distribusi khusus agar pelaku usaha tidak terlalu terdampak antrean BBM yang terjadi saat ini.
Di tengah kondisi tersebut, stabilitas harga di Samarinda masih sangat bergantung pada kelancaran distribusi. Selama pasokan belum sepenuhnya lancar, tekanan harga diperkirakan masih akan terus terasa di pasar. (Nit)



