Kemarau Tekan Sumber Air, DPRD Samarinda Minta Pasokan Air Bersih Tetap Dijaga

Gemanusantara.com – Kemarau panjang mulai memberikan tekanan terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah kawasan Samarinda. DPRD Kota Samarinda menyoroti mulai mengeringnya sumber mata air dan sumur bor, terutama di wilayah pegunungan yang belum sepenuhnya mengandalkan jaringan perpipaan.
Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena masyarakat di kawasan tertentu masih menjadikan sumur bor sebagai sumber utama kebutuhan air sehari-hari. Minimnya hujan dalam beberapa bulan terakhir membuat debit air tanah ikut mengalami penurunan.
“Di sejumlah kawasan pegunungan, sumur bor dan sumber air sudah mulai berkurang bahkan ada yang mengering. Karena itu, masyarakat perlu bersama-sama menghemat penggunaan air selama kondisi kemarau masih berlangsung,” ujar Helmi.
Menurutnya, tekanan terhadap sumber air baku tidak hanya berdampak kepada warga yang menggunakan sumur. Kondisi kemarau berkepanjangan juga dapat memengaruhi kemampuan penyediaan air bersih melalui sistem perpipaan apabila debit sumber air terus menurun.
Di tengah kondisi tersebut, Helmi berharap produksi air bersih tetap dipertahankan selama kualitas sumber air masih memenuhi ketentuan kesehatan. Meski kebijakan teknis berada di ranah Pemerintah Kota Samarinda dan Perumdam Tirta Kencana, DPRD tetap mendorong agar pelayanan kepada masyarakat tidak terhenti apabila kondisi masih memungkinkan.
“Kalau kualitas airnya masih memenuhi syarat dan memungkinkan untuk diolah, tentu harapannya produksi jangan sampai dihentikan. Pelayanan air bersih sangat dibutuhkan masyarakat, terlebih dalam kondisi kemarau seperti sekarang,” katanya.
Persoalan ketersediaan air juga bersamaan dengan meningkatnya kadar klorida pada sejumlah instalasi pengolahan air. Kondisi tersebut membuat pengawasan kualitas air baku menjadi semakin penting agar upaya mempertahankan pasokan tidak mengabaikan aspek kesehatan masyarakat.
Helmi mengatakan penghentian sementara produksi dapat menjadi pilihan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kualitas air telah melewati batas aman. Menurutnya, keputusan tersebut harus didasarkan pada pertimbangan teknis dan keselamatan konsumen.
“Informasi yang saya terima, ketika kadar klorida sudah melampaui batas yang diperbolehkan, operasional bisa dihentikan sementara. Pertimbangannya tentu agar air yang disalurkan tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat,” jelasnya.
DPRD Samarinda mendorong Pemkot bersama Perumdam Tirta Kencana memperkuat pemantauan terhadap debit sekaligus kualitas air baku selama musim kemarau. Informasi mengenai kondisi sumber air dan pelayanan juga dinilai perlu disampaikan secara terbuka agar masyarakat dapat mengantisipasi kemungkinan gangguan distribusi.
Dengan kemarau yang masih berlangsung, pengamanan sumber air, pengendalian kualitas, serta penggunaan air secara bijak menjadi penting agar penurunan debit tidak berkembang menjadi persoalan pasokan yang lebih luas bagi masyarakat Samarinda.
[ADV | DPRD SAMARINDA]