Dulu Punya Rumah Sakit, Sekolah hingga Arena Seluncur Es, Kennecott Kini Tinggal Kota Mati di Alaska

Gemanusantara.com – Kennecott di Alaska, Amerika Serikat, dulunya bukan sekadar kawasan pertambangan. Kota ini pernah dihuni ratusan pekerja dan keluarganya, lengkap dengan rumah sakit, sekolah, toko, lapangan tenis hingga arena seluncur es. Semua fasilitas itu tumbuh karena aktivitas tambang tembaga yang membuat Kennecott sempat menjadi salah satu pusat produksi tembaga penting di dunia.
Dilansir dari The Center for Land Use Interpretation, Kennecott didirikan oleh Kennecott Copper Corporation yang dimiliki J.P. Morgan dan Daniel Guggenheim. Tambang tersebut mulai beroperasi pada awal 1900-an, ketika tembaga menjadi mineral yang semakin dibutuhkan seiring berkembangnya listrik, mobil dan telepon.
Lokasinya yang terpencil membuat perusahaan harus menyiapkan jalur khusus untuk mengangkut hasil tambang. Jalur kereta api sepanjang sekitar 196 mil dibangun untuk membawa bijih tembaga dari kawasan pegunungan menuju pesisir selatan Alaska.
Dilansir dari Alaska.org, perusahaan juga menawarkan gaji tinggi untuk menarik pekerja ke Kennecott. Upah yang diberikan disebut lebih tinggi dibandingkan tambang lain di wilayah Amerika Serikat saat itu karena kondisi lokasi yang jauh dan sulit dijangkau.
Para pekerja kemudian datang dan menetap di kawasan tersebut. Mereka tinggal di barak, sementara sebagian membawa keluarga mereka. Kennecott pun berkembang menjadi sebuah kota tambang dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan penghuninya.
National Park Service mencatat, perusahaan mengoperasikan dua kawasan utama, yakni lokasi penambangan tempat bijih diambil dari pegunungan dan kawasan kota yang menjadi tempat pengolahan bijih.
Pada masa puncaknya, sekitar 300 orang bekerja di area pengolahan tembaga. Sementara 200 hingga 300 pekerja lainnya berada di lokasi penambangan.
Kehidupan di Kennecott juga tidak hanya berkutat dengan pekerjaan tambang. Di sana tersedia rumah sakit, sekolah, toko serba ada, gedung pertemuan, lapangan tenis, arena seluncur es hingga fasilitas pengolahan susu.
Aktivitas pertambangan berlangsung pada 1911 hingga 1938. Dalam periode tersebut, Kennecott berhasil mengolah tembaga dengan nilai hampir US$200 juta dan berkembang menjadi salah satu perusahaan tambang tembaga terbesar di dunia.
Memasuki akhir 1920-an, persediaan bijih tembaga berkualitas tinggi di kawasan tersebut mulai menipis. Perusahaan kemudian mengembangkan usaha ke lokasi tambang lain di Amerika Utara dan Cile.
Pada saat yang sama, laba perusahaan menurun sementara biaya perbaikan jalur kereta api terus meningkat. Kondisi tersebut membuat operasi Kennecott dihentikan pada 1938.
Setelah tambang ditutup, sebagian besar pekerja meninggalkan kawasan tersebut. Kota yang sebelumnya dipenuhi aktivitas pertambangan pun mulai kosong dan bangunan-bangunannya perlahan terbengkalai.
Pada 1960-an, Kennecott Copper Corporation menjual lahan, bangunan serta hak penambangan permukaan mereka kepada Consolidated Wrangell Mining Co. Beberapa tahun kemudian, Great Kennecott Land Company dibentuk pada 1976 dan kawasan kota beserta lahan di sekitarnya dibagi menjadi sejumlah kavling untuk kepemilikan pribadi.
National Park Service kemudian mengakuisisi lahan, hak mineral dan sejumlah kepemilikan terkait Kennecott Copper Mines pada 1998. Langkah tersebut membuat lembaga itu ikut dalam pengelolaan kawasan bekas pertambangan tersebut.
Kini, Kennecott sudah jauh berbeda dari masa ketika ratusan pekerja memenuhi kawasan itu setiap hari. Bekas kota industri tambang tersebut justru dikenal sebagai kawasan bersejarah dengan bangunan-bangunan lama yang masih berdiri.
Kennecott kemudian ditetapkan sebagai National Historic Landmark dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Alaska. Pengunjung datang untuk melihat langsung sisa-sisa kota tambang yang pernah hidup dari tembaga selama puluhan tahun.
Kota yang dulu dipenuhi pekerja dan berbagai fasilitas itu kini menjadi saksi bagaimana sebuah kawasan bisa tumbuh pesat karena hasil tambang, kemudian ditinggalkan setelah aktivitas pertambangannya berhenti. (Nit)



