UEFA Tolak Aturan VAR Kontroversial Piala Dunia 2026, Keputusan yang Picu Polemik di Laga Argentina vs Swiss Tak Akan Dipakai di Eropa

Gemanusantara.com– Kontroversi Video Assistant Referee (VAR) di Piala Dunia 2026 belum juga mereda. Setelah memicu perdebatan dalam laga perempat final Argentina kontra Swiss, UEFA kini resmi mengambil langkah berbeda dengan menolak penggunaan aturan VAR terbaru yang diterapkan FIFA pada turnamen tersebut.
Berdasarkan laporan BBC, UEFA telah menginstruksikan para wasit VAR di seluruh kompetisi Eropa untuk tidak menggunakan mekanisme mistaken identity atau perubahan identitas pemain dalam pemberian kartu. Aturan itu sebelumnya diperkenalkan International Football Association Board (IFAB) dan mulai diterapkan pada Piala Dunia 2026.
BBC melaporkan bahwa UEFA telah menginstruksikan wasit VAR agar tidak menerapkan mekanisme perubahan identitas pemain seperti yang digunakan pada Piala Dunia 2026.
Aturan tersebut memungkinkan VAR mengalihkan kartu kuning maupun kartu merah kepada pemain lain apabila wasit dianggap salah mengidentifikasi pelaku pelanggaran.
Penerapan aturan itu menjadi sorotan saat laga Argentina melawan Swiss. Awalnya, gelandang Argentina Leandro Paredes menerima kartu kuning. Namun setelah dilakukan peninjauan melalui VAR, wasit justru menyatakan Breel Embolo sebagai pemain yang memulai kontak sehingga kartu kuning dialihkan kepadanya. Karena sebelumnya sudah mengantongi kartu kuning, Embolo akhirnya menerima kartu kuning kedua dan harus meninggalkan lapangan pada menit ke-72.
Keputusan tersebut terjadi hanya beberapa menit setelah Swiss menyamakan kedudukan. Bermain dengan 10 pemain membuat mereka kehilangan momentum hingga akhirnya kalah 1-3 dari Argentina pada babak perpanjangan waktu.
Menurut laporan BBC, UEFA menilai penerapan aturan tersebut berpotensi memicu terlalu banyak intervensi VAR dan justru memperbesar kontroversi dalam pertandingan.
Sikap UEFA ini menjadi sinyal bahwa tidak semua inovasi VAR yang diterapkan FIFA akan langsung diadopsi di kompetisi Eropa. Perdebatan mengenai batas kewenangan teknologi dalam membantu keputusan wasit pun diperkirakan masih akan terus berlanjut. (Nit)



