Heboh! Bayi Diberi Nama Muhammad MBG Subianto, Tapi Ditolak Masuk KK, Ternyata Alasannya Bukan karena Arti Namanya

Gemanusantara.com– Kisah seorang bayi asal Wonosobo, Jawa Tengah, mendadak viral di media sosial. Bayi yang diberi nama Muhammad MBG Subianto itu dikabarkan belum bisa didaftarkan ke dalam Kartu Keluarga (KK), sehingga membuat banyak warganet penasaran.
Tak sedikit yang mengira nama tersebut bermasalah karena identik dengan singkatan MBG atau Makan Bergizi Gratis. Namun, faktanya bukan itu yang menjadi penyebab.
Kepala Disdukcapil Kabupaten Wonosobo, Dwi Saraswati, menjelaskan kendala muncul karena penulisan MBG masih dianggap sebagai singkatan. Sementara dalam aturan pencatatan nama pada dokumen kependudukan, penggunaan singkatan tidak diperbolehkan.
“Kalau kami sebenarnya bukan masalah arti MBG-nya, tetapi kembali ke regulasi. Dalam tata cara pencatatan nama di dokumen kependudukan itu tidak boleh singkatan,” ujarnya.
Aturan tersebut tertuang dalam Permendagri Nomor 73 Tahun 2022. Di dalamnya dijelaskan bahwa nama harus mudah dibaca, tidak bermakna negatif, tidak menimbulkan multitafsir, terdiri dari minimal dua kata, serta tidak boleh menggunakan singkatan, angka, maupun tanda baca.
Menurut Saras, singkatan seperti MBG berpotensi menimbulkan multitafsir karena tidak memiliki cara baca yang jelas. Ia pun memberi contoh agar singkatan tersebut ditulis menjadi satu kata.
“Misalkan ditulis saja E, M, B, E, G, E. Itu enggak masalah karena sudah kebaca Embege. Kalau Mbg dibacanya bagaimana, enggak bisa,” jelasnya.
Meski begitu, Saras menegaskan usulan tersebut hanya sebagai solusi agar proses administrasi bisa berjalan. Keputusan akhir tetap berada di tangan orang tua.
“Kami tetap menghargai bahwa hak untuk memberikan nama adalah hak penuh orang tua,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa aturan pemberian nama bukan hanya untuk kepentingan administrasi, tetapi juga demi melindungi anak dari potensi ejekan atau perundungan akibat nama yang sulit dibaca maupun mudah dipelesetkan.
“Jangan sampai nanti dia mendapatkan ejekan, diolok-olok atau sampai kepada pembulian atau perundungan. Ini tentunya akan berpengaruh pada psikologi dan tumbuh kembang anak,” tutupnya. (Nit)



