Jaringan Listrik Nasional Kuba Kolaps Lagi, Pemadaman Massal Kian Perparah Krisis Energi

Gemanusantara.com– Kuba kembali dilanda pemadaman listrik massal setelah jaringan listrik nasional negara itu kolaps pada Senin (6/7) waktu setempat. Insiden ini menjadi pukulan terbaru di tengah krisis energi yang telah berbulan-bulan membebani negara Karibia tersebut.
Operator listrik nasional, Unión Eléctrica (UNE), menyatakan proses pemulihan mulai dilakukan secara bertahap. Pasokan listrik untuk sementara diprioritaskan ke rumah sakit dan fasilitas produksi pangan. Di Havana, listrik yang berhasil dipulihkan hingga Senin sore baru mampu memenuhi sekitar 1 persen dari total kebutuhan kota.
Pemerintah Kuba hingga kini belum mengungkap penyebab kolapsnya jaringan listrik. Namun, kondisi infrastruktur kelistrikan yang telah menua serta terbatasnya pasokan bahan bakar disebut menjadi faktor yang memperburuk krisis energi di negara itu.
Saat jaringan listrik nasional runtuh, sekitar dua pertiga wilayah Kuba sebenarnya sudah lebih dulu mengalami pemadaman. Akibatnya, banyak warga mengaku nyaris tidak merasakan perbedaan karena sejak sebelumnya mereka memang hidup tanpa listrik maupun akses komunikasi. Pemerintah bahkan meminta warga yang masih memiliki aliran listrik untuk membantu menyampaikan informasi kepada tetangga yang tidak dapat mengakses kabar.
“Lihat saja wajah saya, semuanya sudah tergambar. Kami hanya bisa bertahan dan menerima keadaan, tapi ini benar-benar tidak mudah,” ujar Ariel Sotelo, warga Havana, seperti dikutip Reuters.
Pemadaman kali ini menjadi insiden kedelapan sejak Oktober 2025 dan merupakan yang ketiga sepanjang tahun ini. Situasi energi Kuba juga semakin memburuk setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menghentikan pengiriman bahan bakar dari Venezuela ke Kuba serta menekan negara lain agar menghentikan pasokan minyak ke pulau tersebut.
Di tengah tarik-ulur politik tersebut, warga Kuba justru lebih memikirkan kehidupan sehari-hari. “Panasnya, nyamuknya, semuanya sudah tidak tertahankan. Kami benar-benar sudah lelah,” kata Omar Ortega, warga Havana. (Nit)
*diolah dari berbagai sumber



