Gas Portable Murah Bikin Ngiler? Hati-hati, Bisa Jadi Isinya Oplosan LPG Subsidi

Gemanusantara.com– Siapa yang tidak tergoda kalau melihat gas portable dijual jauh lebih murah dari harga pasaran? Eits, jangan buru-buru dibeli. Bisa saja tabung tersebut merupakan hasil oplosan dari LPG subsidi 3 kilogram yang justru membahayakan keselamatan.
Dikutip dari Detik.com, Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok baru-baru ini membongkar praktik pengoplosan LPG subsidi 3 kilogram ke tabung gas portable. Sekilas produknya memang terlihat seperti tabung gas yang biasa dijual di pasaran. Namun, proses pengisiannya dilakukan secara ilegal tanpa memenuhi standar keselamatan.
Praktik tersebut bukan hanya merugikan negara karena menyalahgunakan LPG subsidi, tetapi juga menyimpan risiko serius bagi masyarakat. Tabung gas hasil oplosan berpotensi mengalami kebocoran, memicu kebakaran, hingga meledak saat digunakan.
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat menjelaskan bahwa tabung LPG 3 kilogram dan Bright Gas Can memiliki spesifikasi yang berbeda. Bright Gas Can menggunakan gas yang didominasi butana dengan tekanan lebih rendah, sedangkan LPG subsidi berisi campuran propana dan butana yang memiliki tekanan lebih tinggi.
Perbedaan karakteristik itu membuat keduanya tidak bisa diisi ulang secara sembarangan. Mulai dari tabung, katup, hingga sistem pengamannya dirancang khusus sesuai jenis gas yang digunakan.
Pengisian menggunakan alat rakitan juga berisiko menyebabkan overfilling, yaitu kondisi saat isi gas melebihi batas aman tabung. Jika itu terjadi, tekanan di dalam tabung meningkat dan dapat merusak katup pengaman.
Tak hanya tabung gas portable yang terancam bermasalah. Tabung LPG 3 kilogram yang dijadikan sumber pengisian juga bisa mengalami kerusakan pada katup akibat penggunaan regulator atau adaptor yang tidak sesuai standar. Jika tabung itu kembali beredar, risiko kebocoran gas pun semakin besar.
Pertamina menegaskan bahwa pengisian LPG hanya boleh dilakukan di fasilitas resmi dengan peralatan yang telah dikalibrasi. Hal itu penting untuk memastikan tekanan gas, berat isi, serta kondisi tabung memenuhi standar keselamatan.
Kasus ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak mudah tergiur harga murah saat membeli gas portable. Pastikan membeli produk melalui jaringan distribusi resmi agar kualitas dan keamanannya terjamin.
Apabila menemukan dugaan praktik pengoplosan LPG, masyarakat diimbau segera melaporkannya kepada aparat penegak hukum agar peredaran gas oplosan dapat dihentikan sebelum memakan korban. (Nit)



