Akses Konten Dewasa Menyasar Anak SD, DPRD Samarinda Ingatkan Pengawasan Gawai

Ilustrasi

Gemanusantara.com – Temuan siswa sekolah dasar yang telah mengakses konten pornografi melalui perangkat digital menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan pentingnya membangun pola pengawasan yang terhubung antara sekolah dan orang tua, terutama terhadap penggunaan gawai oleh anak.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan persoalan tersebut pernah disampaikan salah seorang kepala sekolah SD negeri saat berkunjung dan berdiskusi dengan pihaknya. Dari pembicaraan itu diketahui adanya siswa usia sekolah dasar yang telah terpapar konten tidak sesuai dengan usianya.

“Sekolah tentu bisa memberikan edukasi dan batasan kepada anak, tetapi pengawasan tidak boleh berhenti ketika mereka pulang. Orang tua juga harus mengetahui apa yang dilihat dan diakses anak melalui gawainya,” kata Ismail, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, kemudahan akses internet membuat pendampingan terhadap anak semakin penting. Informasi yang dikonsumsi melalui telepon seluler, media sosial maupun platform digital lainnya dapat turut memengaruhi cara berpikir hingga perilaku mereka.

Ismail menilai persoalan tersebut tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada institusi pendidikan. Sekolah hanya memiliki waktu terbatas bersama siswa, sementara sebagian besar aktivitas anak berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Karena itu, ia mendorong sekolah memfasilitasi kegiatan parenting sebagai ruang komunikasi dengan orang tua. Forum tersebut dapat digunakan untuk menyamakan pola pendampingan, mulai dari pengaturan penggunaan telepon seluler, pemilihan tontonan hingga pengawasan aktivitas anak di dunia digital.

“Program parenting bisa menjadi penghubung antara sekolah dan keluarga. Apa yang dibangun guru di sekolah perlu diteruskan orang tua ketika anak berada di rumah, sehingga pola pendampingannya tidak berjalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Selain pengawasan digital, Ismail turut menyoroti pentingnya kehadiran emosional orang tua. Fenomena fatherless, motherless, maupun parentless menurutnya tidak selalu berarti anak kehilangan orang tua secara fisik, tetapi dapat terjadi ketika komunikasi dan kedekatan dalam keluarga tidak terbangun dengan baik.

Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat anak mencari perhatian atau ruang penerimaan di luar keluarga. Risiko akan semakin besar apabila mereka berada dalam lingkungan pergaulan atau memperoleh paparan digital yang memberikan pengaruh negatif.

“Ayah dan ibunya mungkin ada secara fisik, tetapi anak bisa saja merasa tidak mendapatkan kehadiran mereka secara emosional. Kondisi seperti ini juga perlu menjadi perhatian dalam pola pengasuhan,” katanya.

Ismail menilai penguatan komunikasi antara keluarga dan sekolah dapat menjadi bagian dari langkah pencegahan berbagai persoalan anak dan remaja, termasuk kasus asusila maupun penyalahgunaan narkoba. Pendampingan sejak dini dinilai lebih efektif dibandingkan baru bertindak ketika persoalan telah terjadi.

DPRD Samarinda berharap sekolah dan orang tua membangun komunikasi secara berkelanjutan agar pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Perkembangan karakter, kondisi emosional, lingkungan pergaulan, serta aktivitas digital anak juga perlu menjadi bagian dari perhatian bersama.

[ADV | DPRD SAMARINDA]

↑
Exit mobile version