Tak Cukup Keruk Sedimen, DPRD Samarinda Soroti Elevasi Drainase Penghambat Aliran Air

Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim

Gemanusantara.com – Pembenahan drainase di Samarinda dinilai tidak cukup hanya dengan mengangkat sedimentasi dan membersihkan tumpukan sampah. DPRD Samarinda menyoroti persoalan elevasi saluran yang membuat aliran air tidak optimal menuju sungai dan berpotensi memperbesar genangan ketika musim hujan tiba.

Temuan tersebut menjadi perhatian Komisi III DPRD Samarinda setelah melakukan peninjauan terhadap sejumlah jaringan drainase. Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, mengatakan persoalan banjir perlu dilihat dari keseluruhan sistem aliran air, bukan hanya kondisi fisik saluran yang mengalami pendangkalan.

Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Sempaja. Kolam retensi di wilayah tersebut dinilai masih membutuhkan jalur pembuangan yang terhubung dengan drainase di Jalan PM Noor sebelum air dapat diteruskan menuju sungai.

Menurut Rohim, keberadaan kolam retensi tidak akan bekerja maksimal apabila air yang telah ditampung tidak mempunyai jalur keluar dengan kapasitas dan kemiringan yang sesuai. Karena itu, konektivitas antarjaringan drainase harus diperiksa sebelum intensitas hujan meningkat.

“Yang perlu dipastikan bukan hanya salurannya bersih. Arah dan kemiringan drainase juga harus mendukung agar air bisa mengalir sampai ke pembuangan akhir, bukan justru tertahan dan menimbulkan genangan di titik tertentu,” ujar Rohim, Selasa (13/10/2026).

Waktu pembenahan dinilai semakin terbatas. Berdasarkan prakiraan BMKG yang dirilis Jumat (9/10/2026), musim hujan di Kalimantan Timur diperkirakan mulai berlangsung bertahap sejak akhir Oktober hingga pertengahan November 2026.

Puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Dengan perkiraan musim hujan berlangsung sekitar 6–10 bulan, Rohim menilai sisa periode kering harus dimanfaatkan untuk menyelesaikan titik-titik drainase yang masih bermasalah.

“Sebelum hujan mulai rutin turun, persoalan yang sudah diketahui seharusnya bisa dikerjakan lebih dahulu. Jangan menunggu air meluap atau genangan kembali terjadi baru dilakukan penanganan,” katanya.

Selain persoalan elevasi, hasil pemantauan juga menemukan saluran yang mengalami pendangkalan akibat sedimentasi serta penyumbatan sampah. Kondisi tersebut mengurangi kapasitas drainase dalam menerima dan mengalirkan limpasan air saat hujan deras.

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda karena itu diminta memaksimalkan anggaran pemeliharaan. Pembersihan saluran perlu berjalan bersamaan dengan evaluasi jaringan untuk mengetahui titik yang membutuhkan perbaikan konstruksi maupun koneksi pembuangan.

Rohim juga mengingatkan penanganan di kawasan perkotaan harus dibarengi pengawasan terhadap pembukaan lahan di wilayah hulu. Berkurangnya daerah resapan berpotensi meningkatkan limpasan air yang kemudian harus ditampung jaringan drainase di kawasan bawah.

DPRD Samarinda berharap persiapan menghadapi musim hujan dilakukan sebagai satu kesatuan sistem, mulai dari kawasan resapan, drainase, kolam retensi hingga saluran menuju sungai. Dengan demikian, penanganan banjir tidak berhenti pada pengerukan, tetapi memastikan air benar-benar memiliki jalur pembuangan yang berfungsi optimal.

[ADV | DPRD SAMARINDA]

↑
Exit mobile version