
Gemanusantara.com – Evaluasi keselamatan angkutan sungai rute Samarinda-Ulu Mahakam mulai dilakukan setelah peristiwa karamnya KM Dahliya F3 di perairan Ulak Besar, Sungai Mahakam, Muara Kaman, pekan lalu. Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perhubungan menilai perlu ada penertiban pola pengangkutan barang dan penumpang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, menyebut salah satu persoalan krusial adalah penempatan muatan di bagian atas kapal. Praktik tersebut dinilai berisiko karena dapat memengaruhi keseimbangan, terutama ketika kapal melintasi arus deras.
Menurutnya, penataan ulang akan diarahkan pada pelarangan penempatan barang maupun orang di dek atau atap kapal. Muatan hanya diperbolehkan berada di lambung kapal dengan perhitungan kapasitas yang jelas.
“Kalau titik berat kapal berubah, stabilitasnya terganggu. Itu yang ingin kita benahi supaya tidak terulang kejadian serupa,” ucap HMT Manalu, Kamis (19/2/2026).
Karena kewenangan pengaturan teknis berada pada KSOP Samarinda, hasil komunikasi awal yang telah dilakukan Dishub akan dibawa dalam forum resmi untuk dirumuskan menjadi ketentuan bersama. Pembahasan tersebut dijadwalkan dalam waktu dekat.
Manalu juga menjelaskan, koordinasi informal sudah dilakukan dengan pemilik kapal, pedagang pengguna jasa angkutan sungai, Dishub Kutai Barat, hingga perwakilan legislatif di Samarinda dan Kutai Barat. Responsnya disebut cukup positif.
Skema yang mengemuka, lanjut dia, yakni pembatasan tegas muatan agar tidak melebihi kapasitas. Apabila volume barang tidak memungkinkan diangkut satu kapal, maka dapat dibagi ke armada lain.
Selain muatan barang, Dishub juga menyoroti persoalan penambahan penumpang di tengah perjalanan. Dari laporan nakhoda, meski kapal telah penuh saat berangkat dari dermaga Sungai Kunjang, kerap muncul permintaan naik dari titik-titik sepanjang jalur pelayaran.
Penolakan terhadap calon penumpang disebut berpotensi menimbulkan risiko sosial bagi awak kapal.
“Ada kekhawatiran kapal dilempari ketika melintas kembali pada malam hari jika tidak berhenti. Ini menjadi tantangan tersendiri,” terang Manalu.
Ia menegaskan, pembenahan sistem ini tidak hanya soal aturan, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas utama bagi seluruh pihak yang terlibat di jalur Samarinda-Ulu Mahakam. (Nit)