Kadar Klorida Dipantau Tiap 15 Menit, Perumda Samarinda Jaga Produksi Air Tetap Aman

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana, Cevi Wahyudi

Gemanusantara.com – Perumda Tirta Kencana Samarinda memperketat pengawasan kualitas air baku selama menghadapi intrusi air laut dengan melakukan pemantauan kadar klorida setiap 15 menit. Hasil pemeriksaan menjadi dasar menentukan apakah Instalasi Pengolahan Air (IPA) dapat terus berproduksi atau harus dihentikan sementara.

Asisten Manajer Humas Perumda Tirta Kencana, Cevi Wahyudi, mengatakan pola pengawasan tersebut diterapkan terutama ketika kondisi intrusi air asin berada pada status siaga hingga krisis. Produksi air kemudian disesuaikan dengan perubahan kadar klorida yang terpantau.

“Waktu kemarin siaga krisis, kita 15 menit sekali kita pantau. Apalagi kloridanya menurun, kita produksi. Apabila naik, kita stop lagi. Tapi tidak ada stop total 24 jam, cuma pengurangan jam operasional saja,” jelas Cevi.

Kondisi intrusi sebelumnya sempat mencapai tahap krisis pada 10 September 2026. Air asin saat itu telah memengaruhi sejumlah fasilitas pengolahan, termasuk IPA Tirta Kencana, Selili hingga Gunung Lipan.

Namun, pemeriksaan laboratorium pada 12 September menunjukkan kadar klorida di sejumlah IPA mulai kembali memenuhi standar. Kondisi tersebut memungkinkan beberapa fasilitas kembali menjalankan produksi.

“Terima kasih teman-teman, untuk informasi pada tanggal 14 September 2026 hari ini kita sudah ke kondisi normal. Sebelumnya di tanggal 10 kita ada informasi krisis untuk aliran air kita yang sudah masuk ke IPA Tirta Kencana sampai IPA Selili sama Gunung Lipan,” ujarnya.

Saat ini IPA Selili, Sungai Kapih, Kalhol hingga Pulau Atas telah kembali beroperasi. Sementara itu, IPA Bantuas masih belum dapat beroperasi normal karena kadar klorida di lokasi tersebut masih tergolong tinggi.

Meski produksi di sebagian besar IPA kembali berjalan, aliran air belum otomatis diterima secara merata oleh seluruh pelanggan. Sejumlah jaringan pipa sempat kosong saat jam operasional dikurangi sehingga membutuhkan waktu untuk terisi dan mengalir kembali ke pelanggan.

Perumda juga belum menghentikan kewaspadaan terhadap kemungkinan intrusi kembali terjadi. Pemantauan akan dilanjutkan selama 10 hari ke depan. “Untuk warga, selagi normal ini, kami mengimbau untuk menampung air dan menggunakan air secara bijak. Kita pantau lagi 10 hari ke depan. Mudah-mudahan di hulu ada hujan, di Samarinda ada hujan juga, sehingga mudah-mudahan tidak ada lagi intrusi air asin,” kata Cevi.

Pengawasan kualitas air baku tetap dilakukan meski kondisi sebagian besar IPA telah membaik. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan air yang diproduksi tetap memenuhi standar sekaligus menjaga kontinuitas pelayanan apabila kadar klorida kembali meningkat. (sal)

Exit mobile version