SAMARINDA

CFN Meledak, DPRD Samarinda Baca Sinyal Baru Pergerakan Ekonomi Malam

Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Viktor Yuan. (Gemanusantara.com)

Gemanusantara.com — Membludaknya pengunjung dalam pelaksanaan Car Free Night (CFN) di kawasan Jalan Kusuma Bangsa mulai dibaca sebagai tanda munculnya pergerakan baru ekonomi malam di Samarinda. Aktivitas yang awalnya hanya dianggap hiburan akhir pekan itu kini dinilai mulai memberi dampak langsung terhadap ruang publik dan perputaran usaha masyarakat kecil.

Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Viktor Yuan, menilai tingginya antusiasme warga menunjukkan bahwa masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang kota yang hidup dan terbuka untuk aktivitas sosial maupun ekonomi.

“Kalau kita lihat sekarang, masyarakat memang butuh ruang interaksi yang nyaman. Ketika ruang itu tersedia, warga datang dengan sendirinya,” jelasnya, Jum’at (8/5/2026).

Menurut Viktor, ramainya CFN tidak hanya menciptakan kerumunan warga, tetapi juga memunculkan aktivitas ekonomi yang mulai terasa di lapangan. Pedagang kaki lima, UMKM hingga pelaku usaha kecil disebut menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.

“Yang paling terasa tentu UMKM. Saat ribuan orang berkumpul, otomatis roda ekonomi kecil ikut bergerak,” ujarnya.

Ia menyebut fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa Samarinda memiliki potensi ekonomi malam yang masih bisa dikembangkan lebih serius. Tidak hanya sebagai pusat aktivitas pemerintahan, kota juga dinilai perlu menghadirkan ruang publik yang mampu menghidupkan aktivitas masyarakat hingga malam hari.

Menurutnya, pembangunan kota modern tidak lagi hanya diukur dari proyek fisik dan infrastruktur besar, tetapi juga dari bagaimana ruang publik mampu dimanfaatkan masyarakat secara aktif.

“Kota yang hidup itu bukan cuma ramai kendaraan, tapi juga ramai aktivitas masyarakatnya,” sebut Viktor.

Meski mengapresiasi tingginya animo masyarakat, ia mengingatkan agar pengelolaan CFN tetap diperhatikan secara matang. Persoalan kebersihan, keamanan, rekayasa lalu lintas hingga penataan pedagang dinilai harus disiapkan apabila kegiatan terus berkembang dan menarik lebih banyak pengunjung.

“Jangan sampai antusiasme tinggi tetapi pengelolaannya tertinggal. Itu justru bisa menimbulkan persoalan baru,” tegasnya.

Viktor juga mendorong agar CFN tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata. Ia berharap kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang kolaborasi yang melibatkan komunitas, pelaku seni, generasi muda hingga pelaku ekonomi kreatif lokal.

“Kalau dikelola serius, kegiatan seperti ini bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di Samarinda,” pungkasnya. (Nit)

Related Articles

Back to top button