Disdikbud Samarinda Minta Sekolah Hentikan Tradisi Perpisahan yang Memberatkan Orang Tua

Gemanusantara.com – Fenomena acara perpisahan sekolah dengan biaya besar kembali menjadi perhatian di Samarinda. Pemerintah kota meminta sekolah tidak menjadikan kegiatan pelepasan siswa sebagai acara seremonial yang akhirnya membebani wali murid.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Ibnu Araby, menilai kegiatan perpisahan seharusnya cukup dilaksanakan secara sederhana tanpa harus diiringi pungutan maupun biaya tambahan.
“Jangan sampai momen kelulusan justru membuat orang tua terbebani karena harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit,” tegas Araby, Kamis (7/5/2026).
Ia mengatakan sekolah perlu memahami kondisi ekonomi setiap keluarga yang berbeda. Karena itu, kegiatan perpisahan diminta tidak dibuat seolah menjadi kewajiban yang harus dibiayai seluruh siswa.
Menurutnya, penggunaan aula sekolah maupun kegiatan sederhana di lingkungan pendidikan sudah cukup untuk menjadi bentuk apresiasi terhadap siswa yang lulus.
“Esensi perpisahan itu kebersamaan dan penghargaan kepada siswa, bukan soal mewah atau tidaknya acara,” katanya.
Araby juga menegaskan pihaknya tidak membenarkan adanya pengumpulan dana dengan alasan apa pun, termasuk melalui paguyuban orang tua, komite, maupun kesepakatan bersama yang berujung pada kewajiban membayar.
Ia mengungkapkan Disdikbud bersama Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) dan Inspektorat telah turun langsung menindaklanjuti laporan masyarakat terkait pungutan kegiatan perpisahan di sejumlah sekolah.
“Hasil evaluasi kami, ada sekolah yang akhirnya membatalkan pungutan dan mengembalikan uang yang sudah terlanjur dikumpulkan,” paparnya.
Ia berharap polemik terkait biaya perpisahan tidak terus berulang setiap tahun dan sekolah dapat lebih mengedepankan empati terhadap kondisi wali murid.
“Sekolah jangan sampai kehilangan tujuan utama pendidikan hanya karena sibuk mengejar acara seremonial,” tandasnya. (Nit)



