
Gemanusantara.com – Kehadiran Tebing Lonceng di Samarinda Seberang tidak hanya menjadi destinasi favorit untuk menikmati panorama Kota Samarinda dari ketinggian, tetapi juga mulai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan, berbagai usaha lokal tumbuh dan menjadi sumber pendapatan baru bagi warga.
Pemandu Wisata Samarinda Seberang sekaligus Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rais, mengatakan kawasan tersebut memiliki daya tarik yang sulit ditemukan di lokasi lain. Dari puncak Tebing Lonceng, pengunjung dapat menyaksikan bentang alam dan kawasan perkotaan Samarinda dari berbagai arah.
“Kalau bicara Tebing Lonceng, ini salah satu view terbaik di wilayah seberang. Dari selatan terlihat muara sungai, dari utara Samarinda Seberang dan pusat kota, hingga kawasan Sungai Kapih dan Jembatan Mahkota II,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, pengembangan kawasan wisata tersebut telah berlangsung sejak 2016. Berawal dari lokasi yang hanya digunakan sebagai tempat rekreasi masyarakat, kini Tebing Lonceng telah dilengkapi sejumlah fasilitas yang mendukung aktivitas wisata.
“Sekarang sudah ada musala, toilet, kafetaria, warung makanan, spot foto hingga vila. Ini hasil pengembangan yang dilakukan bersama masyarakat,” katanya.
Rusdi menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor wisata di kawasan tersebut ikut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Warga tidak hanya terlibat sebagai pengelola destinasi, tetapi juga memperoleh manfaat melalui berbagai usaha yang tumbuh di sekitar lokasi wisata.
“UMKM lokal ikut merasakan manfaatnya. Warga bisa berjualan, mengelola vila, hingga menitipkan produk untuk dijual kepada pengunjung,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai pengembangan Tebing Lonceng masih memerlukan dukungan lebih besar, terutama terkait infrastruktur dan aspek keselamatan. Salah satu perhatian utama adalah potensi longsor yang perlu diantisipasi agar aktivitas wisata dapat berjalan dengan aman dan berkelanjutan.
“Kami sudah survei bersama BPBD dan DLH. Kawasan ini cukup rentan longsor karena ada aliran air di bawah tanah. Ini tentu menyangkut keselamatan pengunjung,” ungkapnya.
Selain persoalan infrastruktur, promosi destinasi wisata juga dinilai perlu ditingkatkan. Rusdi berharap pemerintah dapat mengintegrasikan Tebing Lonceng dengan destinasi lain di Samarinda Seberang sehingga tercipta paket wisata yang lebih menarik bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Di sisi lain, kawasan tersebut juga menyimpan nilai sejarah yang belum banyak diketahui masyarakat. Sebelum dikenal sebagai Tebing Lonceng, lokasi itu pernah memiliki sejumlah nama lain seperti Gunung Butun, Gunung Lampu, hingga Gunung RCTI. Sejarah tersebut dinilai dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan wisata berbasis identitas lokal.
Dengan potensi alam, sejarah, dan keterlibatan masyarakat yang sudah terbentuk, Tebing Lonceng diyakini memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu destinasi unggulan Kota Samarinda. Dukungan pemerintah melalui penguatan infrastruktur, promosi, dan mitigasi bencana diharapkan mampu mempercepat pengembangan kawasan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. (Sal)