
Gemanusantara.com– Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali disorot. Kali ini, peneliti BRIN Prof Erma Yulihastin menyinggung soal putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat sebagai wakil presiden.
Erma menyampaikan kritik tersebut setelah menyimak wawancara Jokowi dengan Bocor Alus Politik Tempo. Ia menilai Jokowi dalam wawancara itu banyak membantah tudingan yang disampaikan kepadanya dengan mengatasnamakan demokrasi.
Dikutip dari Fajar.co.id, Sabtu (29/8/2026), Erma justru mengaku kecewa karena menilai Jokowi tidak menunjukkan rasa penyesalan ataupun mengakui persoalan terkait posisi Gibran.
“Semua dibantah dan selalu mengatasnamakan demokrasi,” kata Erma melalui unggahannya di X.
“Ada satu hal yang paling mengecewakan, yaitu tak ada sama sekali rasa bersalah atau minimal mengakui bahwa anaknya itu sebenarnya tidak layak dan tidak kompeten,” ujarnya.
Erma kemudian mempertanyakan demokrasi Indonesia yang menurutnya seharusnya mampu melahirkan sosok pemimpin yang lebih kompeten.
“Ayolah, 280 juta orang Indonesia, masa iya demokrasi tak bisa memunculkan yang benar-benar kompeten?” imbuhnya.
Tak hanya Jokowi, partai politik juga ikut disentil Erma.
“Itu parpol-parpol gunanya apa sih?” ucapnya.
Nama Gibran sendiri memang sudah lama menjadi sorotan sejak pencalonannya sebagai cawapres pada Pilpres 2024. Saat itu, Jokowi juga sempat menyatakan akan melakukan cawe-cawe politik dengan alasan ingin memastikan Pilpres berjalan baik dan tidak menimbulkan gejolak.
“Ya, harus menjaga agar di kepemimpinan nasional serentak, pilpres itu bisa berjalan baik, tanpa ada riak-riak yang membahayakan bangsa dan negara,” kata Jokowi pada 2023.
Pencalonan Gibran juga tak lepas dari Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang dibacakan pada 16 Oktober 2023. Putusan tersebut membuka peluang bagi seseorang yang belum berusia 40 tahun untuk maju sebagai capres atau cawapres jika pernah atau sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilu, termasuk kepala daerah.
Ketentuan itu kemudian membuat Gibran yang saat itu belum berusia 40 tahun bisa maju sebagai cawapres hingga akhirnya terpilih mendampingi Prabowo Subianto. (Nit)