SAMARINDA

DPRD Samarinda Soroti Pentingnya Pemeliharaan Kolam Retensi dan Tanggul untuk Pengendalian Banjir

Komisi III DPRD Samarinda meninjau kolam retensi di kawasan Sempaja, Samarinda. (Gemanusantara.com)

Gemanusantara.com – Pemeliharaan kolam retensi dan tanggul menjadi sorotan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda setelah ditemukan adanya gulma atau tanaman liar yang berpotensi mengurangi kapasitas tampung air pada sejumlah fasilitas pengendali banjir di kota tersebut.

Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan keberadaan gulma di area kolam retensi maupun tanggul perlu mendapat perhatian serius karena dapat memengaruhi kinerja infrastruktur tersebut dalam menampung air saat curah hujan tinggi.

“Pembangunan infrastruktur pengendali banjir tidak cukup hanya selesai secara fisik. Perawatannya juga harus dilakukan secara rutin agar kapasitas tampung air tetap terjaga,” ungkap Deni, Jum’at (6/3/2026).

Ia juga menegaskan, pembersihan gulma perlu dilakukan secara berkala agar fungsi kolam retensi sebagai penampung sementara air hujan tidak terganggu.

“Kami meminta agar gulma dibersihkan secara rutin karena bisa mengurangi kapasitas tampung air di kolam retensi,” kata politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tersebut.

Sorotan tersebut disampaikan usai Komisi III DPRD Samarinda melakukan peninjauan ke sejumlah infrastruktur pengendali banjir di wilayah kota, di antaranya kolam retensi di kawasan Sempaja serta kolam retensi Bengkuring.

Dalam peninjauan tersebut, DPRD juga melihat kondisi kolam retensi Bengkuring yang sebelumnya telah mengalami perluasan sekitar lima hektare. Infrastruktur tersebut diketahui telah selesai dikerjakan pada 2025 dan menjadi salah satu fasilitas penting dalam upaya pengendalian banjir di kawasan tersebut.

Selain itu, DPRD juga menyoroti sejumlah infrastruktur pengendali banjir lainnya yang masih memerlukan perhatian, salah satunya penyambungan tanggul di kawasan Bengkuring yang belum sepenuhnya terhubung hingga wilayah Betapus.

“Beberapa infrastruktur masih perlu ditindaklanjuti, termasuk penyambungan tanggul agar sistem pengendalian banjir bisa bekerja lebih optimal,” jelasnya.

Deni menegaskan bahwa seluruh infrastruktur pengendali banjir, baik kolam retensi, tanggul, maupun jaringan drainase, perlu dikelola secara terintegrasi dan disertai pemeliharaan yang berkelanjutan.

“Kalau infrastrukturnya sudah ada tetapi tidak dirawat dengan baik, tentu fungsinya tidak akan maksimal. Karena itu pemeliharaan rutin harus menjadi perhatian,” tutupnya. (Nit)

Related Articles

Back to top button