
Gemanusantara.com – Ketegangan sempat menyelimuti halaman Gedung DPRD Kalimantan Timur saat ratusan mahasiswa bertahan dalam aksi unjuk rasa di Jalan Teuku Umar, Samarinda, Selasa (21/4/2026). Di tengah tekanan massa yang terus mendesak jawaban, pimpinan DPRD akhirnya turun langsung menemui mahasiswa.
Wakil Ketua I DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, muncul di hadapan peserta aksi untuk meredam situasi yang semakin memanas. Di depan massa, ia menyatakan tuntutan mahasiswa terkait penggunaan hak angket akan dibawa ke pembahasan resmi di internal lembaga.
“Kami datang menemui langsung agar aspirasi ini tidak hanya berhenti di luar pagar. Apa yang disampaikan mahasiswa akan kami bawa ke rapat pimpinan untuk ditindaklanjuti,” ucapnya di tengah sorakan massa.
Mahasiswa sejak pagi mendesak DPRD menggunakan hak angket sebagai bentuk pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dinilai menimbulkan keresahan publik. Desakan itu terus menggema selama aksi berlangsung, membuat suasana di depan gedung legislatif sempat memanas.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa meminta komitmen nyata, bukan sekadar pernyataan normatif. Sejumlah peserta aksi bahkan meneriakkan agar DPRD tidak hanya menerima aspirasi, tetapi menunjukkan keberpihakan melalui langkah politik yang jelas.
Menanggapi tekanan tersebut, Ekti mengakui dukungan awal di internal DPRD untuk membahas hak angket sudah mulai menguat. Menurutnya, komunikasi antara unsur pimpinan dan fraksi telah berjalan, meski keputusan akhir tetap harus melalui mekanisme kelembagaan.
“Secara prinsip sudah ada kesamaan pandangan. Tetapi keputusan resmi tetap harus melalui forum pimpinan bersama seluruh fraksi,” katanya.
Turunnya pimpinan DPRD menemui massa menjadi momen penting dalam aksi tersebut. Bagi mahasiswa, langkah itu menjadi sinyal awal bahwa tekanan yang mereka bangun mulai mendapat respons langsung dari lembaga legislatif.
Kini perhatian tertuju pada langkah DPRD Kaltim berikutnya, apakah tuntutan yang disuarakan di tengah aksi itu benar-benar akan berlanjut ke meja pembahasan, atau kembali berhenti sebagai janji di tengah demonstrasi. (Nit)