
Gemanusantara.com – RSUD IA Moeis Samarinda menilai keberhasilan penanganan tuberkulosis (TB) dan HIV tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas kesehatan maupun obat-obatan. Dukungan lingkungan dan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan penyembuhan dan pengendalian penyakit tersebut.
Direktur RSUD IA Moeis, Osa Rafshodia, mengatakan rumah sakit terus berupaya memperkuat layanan bagi pasien TB dan HIV sebagai bagian dari tanggung jawab pelayanan kesehatan pemerintah. Menurutnya, hingga saat ini layanan pengobatan kedua penyakit tersebut berjalan dengan baik dan didukung oleh ketersediaan obat dari Dinas Kesehatan.
“Kita tetap mengedepankan fungsi sosial. Pelayanan TB dan HIV berjalan baik, termasuk dukungan obat-obatan dari Dinas Kesehatan,” ujar Osa, Jumat (5/6/2026).
Selain memastikan layanan medis tetap berjalan optimal, RSUD IA Moeis juga melakukan peningkatan kapasitas fasilitas. Salah satu yang menjadi prioritas adalah penambahan ruang isolasi untuk pasien penyakit menular guna mengantisipasi kebutuhan pelayanan yang terus meningkat.
“Kapasitas ruang isolasi saat ini enam tempat tidur, dan tahun ini akan kita tambah menjadi sepuluh tempat tidur agar pelayanan lebih optimal,” jelasnya.
Osa mengungkapkan jumlah kasus TB dan HIV di Samarinda menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan penduduk dan tingginya mobilitas masyarakat di Kota Samarinda sebagai daerah transit dinilai turut memengaruhi meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular.
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya terkait kapasitas rumah sakit. Menurutnya, banyak pasien yang kesulitan mempertahankan konsistensi pengobatan karena durasi terapi yang cukup panjang. Padahal, keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien mengikuti seluruh tahapan terapi.
“Kendala utama ada pada pengobatan yang panjang. TB harus rutin, sementara HIV seumur hidup. Di sini peran masyarakat sangat penting agar pasien tidak berhenti berobat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti masih adanya stigma negatif terhadap penderita HIV yang kerap membuat pasien enggan terbuka atau bahkan menghentikan pengobatan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam upaya penanggulangan penyakit menular tersebut.
“Jangan sampai ada stigma di masyarakat. Peran edukasi dari berbagai pihak sangat penting agar pasien tetap menjalani pengobatan,” tambahnya.
Untuk menjaga kualitas pelayanan, RSUD IA Moeis turut melakukan penyesuaian sumber daya manusia dengan mengoptimalkan tenaga kesehatan yang tersedia pada layanan prioritas. Melalui penguatan fasilitas, dukungan obat-obatan, serta peningkatan kesadaran masyarakat, rumah sakit berharap upaya pengendalian TB dan HIV di Samarinda dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. (Sal)