Dari Dapur ke Bekal Hidup: Program MBG Siap Libatkan Warga Binaan Lapas Samarinda

Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto. (Gemanusantara.com)

Gemanusantara.com – Lapas Kelas IIA Samarinda bersiap menjadi salah satu lokasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah. Namun, program ini tidak hanya berorientasi pada penyediaan makanan bergizi, melainkan juga membuka ruang pembinaan keterampilan bagi warga binaan menjelang mereka kembali ke masyarakat.

Saat ini, pihak lapas tengah mempersiapkan pembangunan dapur MBG beserta sejumlah penyesuaian sarana pendukung agar sesuai dengan standar yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Dapur tersebut nantinya akan menjadi pusat operasional program di lingkungan Lapas Samarinda.

Kepala Lapas Kelas IIA Samarinda, Yohanis Varianto, mengatakan program tersebut merupakan hasil kerja sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dengan yayasan pelaksana MBG yang saat ini mulai diperluas ke berbagai daerah.

“Program ini merupakan kerja sama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dengan yayasan pelaksana MBG. Saat ini pelaksanaannya mulai diperluas dan Lapas Samarinda mendapat kesempatan untuk ikut menjalankannya,” paparnya saat ditemui di Lapas Kelas IIA Samarinda, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Yohanis, tidak semua lapas di Indonesia langsung terlibat dalam program tersebut. Pada tahap awal, hanya sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan yang ditunjuk untuk menjadi lokasi pelaksanaan.

Program MBG sebelumnya telah diuji coba di beberapa lapas dan menunjukkan hasil yang cukup baik. Evaluasi tersebut menjadi dasar pemerintah untuk memperluas pelaksanaannya ke wilayah lain, termasuk Kalimantan Timur.

“Karena hasil pelaksanaannya dinilai positif, cakupan program kemudian diperluas. Kami bersyukur Lapas Samarinda dipercaya menjadi salah satu pelaksananya,” katanya.

Selain menyiapkan fasilitas dapur, pihak lapas juga mulai menyusun skema pelibatan warga binaan dalam operasional program. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang selama ini terus didorong oleh jajaran pemasyarakatan.

Yohanis menjelaskan, warga binaan yang nantinya terlibat akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu terkait pengolahan makanan, kebersihan, hingga tata kelola dapur sesuai standar yang berlaku.

“Ini bukan sekadar membantu operasional dapur. Kami ingin mereka memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah kembali ke tengah masyarakat,” tuturnya.

Warga binaan yang diprioritaskan adalah mereka yang telah memasuki tahapan akhir masa pidana dan memenuhi syarat untuk mengikuti program pembinaan. Setelah menjalani pelatihan, peserta juga akan memperoleh sertifikat keterampilan yang dapat digunakan sebagai nilai tambah ketika mencari pekerjaan maupun membuka usaha secara mandiri.

Yohanis juga menyebut, aspek pembinaan menjadi salah satu nilai penting dalam pelaksanaan program tersebut. Melalui keterampilan yang diperoleh, warga binaan diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan mandiri setelah menyelesaikan masa hukuman.

“Harapannya mereka tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga memiliki kemampuan yang benar-benar bisa dimanfaatkan ketika kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Meski melibatkan warga binaan, seluruh kegiatan tetap akan berlangsung di bawah pengawasan petugas lapas. Pengamanan dan pengendalian operasional tetap menjadi prioritas agar program berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Semua aktivitas tetap berada dalam pengawasan petugas dan dilaksanakan sesuai standar keamanan yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (Nit)

Exit mobile version