
Gemanusantara.com – Wali Kota Samarinda Andi Harun menilai persoalan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak akan pernah benar-benar selesai selama masyarakat masih memandang adanya sekolah favorit dan non favorit.
Menurutnya, pola pikir tersebut menjadi salah satu pemicu utama munculnya polemik setiap tahun ajaran baru, mulai dari persaingan ketat antarorang tua hingga munculnya upaya mencari jalur khusus agar anak bisa diterima di sekolah tertentu.
Hal itu disampaikan Andi Harun atau yang kerap disapa AH itu, usai Sosialisasi Juknis dan Konsultasi Publik SPMB jenjang PAUD, SD, dan SMP Kota Samarinda di Arutalla Ballroom Bapperida Samarinda, Senin (25/5/2026).
“Selama masyarakat masih menganggap hanya beberapa sekolah yang bagus, maka persoalan penerimaan murid baru akan terus berulang,” ujarnya.
Ia juga mengatakan pemerintah saat ini tengah berupaya membangun sistem pendidikan yang lebih merata agar seluruh sekolah negeri memiliki kualitas yang sama baiknya. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi terfokus memasukkan anak ke sekolah tertentu saja.
Menurut AH, kualitas pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari kondisi bangunan sekolah ataupun label favorit yang selama ini melekat di tengah masyarakat.
Ia menegaskan sekolah dengan fasilitas sederhana tetap bisa menghadirkan pendidikan berkualitas apabila didukung tenaga pengajar yang baik serta tata kelola yang profesional.
“Yang paling penting sebenarnya mutu pendidikan, kualitas pengajar, dan integritas penyelenggaraannya,” sebutnya.
Selain pemerataan kualitas sekolah, Pemkot Samarinda juga disebut terus memperkuat pengawasan pelaksanaan SPMB agar berjalan sesuai aturan dan tidak membuka ruang intervensi dari pihak manapun.
AH juga menilai seluruh pihak harus ikut menjaga proses penerimaan siswa tetap objektif dan adil. Sebab jika masih ada upaya mencari jalan belakang demi masuk sekolah tertentu, maka kepercayaan publik terhadap sistem pendidikan akan terus terganggu.
“Kalau semua pihak konsisten menjaga integritas, maka proses penerimaan siswa bisa berjalan lebih baik dan adil,” tegasnya.
Ia berharap ke depan masyarakat mulai mengubah pola pandang terhadap sekolah negeri di Samarinda, sehingga seluruh sekolah dapat berkembang tanpa adanya stigma sekolah unggulan maupun sekolah pinggiran. (Nit/Adv)