
Gemanusantara.com– Setiap hari, Agus bekerja di tempat yang mungkin dihindari banyak orang. Selama 27 tahun terakhir, pria asal Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, itu menghabiskan waktunya untuk mengurus proses kremasi ribuan jenazah dari berbagai latar belakang agama.
Dilansir dari Kompas.com, Agus awalnya tidak pernah membayangkan dirinya akan bekerja sebagai petugas kremasi. Semuanya bermula pada tahun 2000 ketika seorang temannya mengajaknya bekerja di tempat tersebut.
“Teman sih yang ngajak untuk kerja di sini bantu-bantu. Awalnya jadi keamanan, tapi keamanan diperbantukan di bagian oven. Secara otodidak belajar sendiri jadinya,” kata Agus.
Setiap pagi, Agus memeriksa daftar jenazah yang akan dikremasi dan memastikan seluruh mesin berfungsi dengan baik. Ia juga bertugas mengatur suhu oven yang bisa mencapai 350 derajat Celsius agar proses kremasi berjalan lancar.
Namun, pekerjaannya tak selalu mudah. Mesin terkadang berhenti beroperasi akibat berbagai hal, mulai dari barang-barang yang mudah meledak di dalam peti hingga saluran udara yang tertutup pakaian atau kertas.
Setelah proses kremasi selesai, Agus dan rekan-rekannya masih harus merapikan sisa tulang belulang sebelum menyerahkannya kepada pihak keluarga.
Agus mengaku sempat diliputi rasa takut saat pertama kali menjalani pekerjaan tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, rasa takut itu berubah menjadi tanggung jawab.
“Pastilah takut. Namanya yang dikremasi ini kan wujudnya sama seperti kita. Pasti ada rasa itu di awal. Tapi, rasa itu selalu saya tutupi dengan rasa tanggung jawab,” ujarnya.
Meski sudah puluhan tahun menjalani pekerjaan itu, Agus mengatakan penghasilannya masih berada di bawah upah minimum regional (UMR) Jakarta. Meski begitu, ia tetap bertahan karena merasa pekerjaannya dapat membantu banyak orang.
“Kalau dikatakan cukup sebenarnya tidak cukup. Cuma kita harus bersyukur saja. Kebetulan istri saya juga berdagang, jadi bisa membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.
Sementara itu, antropolog dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Imam Setyobudi, menjelaskan bahwa kremasi bukan sekadar proses pembakaran jenazah, melainkan sebuah ritual sakral yang dipercaya menjadi jalan bagi seseorang untuk memasuki fase kehidupan berikutnya. (Nit)