
Gemanusantara.com – Tingkat keterisian kios menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam upaya menghidupkan kembali Pasar Pagi Samarinda. Dari sekitar 2.500 kios yang tersedia, hasil inspeksi sebelumnya menunjukkan sekitar 1.500 kios masih belum terisi dan kini akan diverifikasi kembali oleh Dinas Perdagangan (Disdag).
Persoalan tersebut menjadi bagian dari 14 masalah Pasar Pagi yang dibahas DPRD Kota Samarinda bersama Disdag, Dinas PUPR, Dinas Perhubungan (Dishub), Inspektorat serta perwakilan pedagang dari setiap lantai, Selasa (1/9/2026).
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, mengatakan seluruh persoalan telah diinventarisasi untuk kemudian ditelaah bersama OPD terkait. DPRD menargetkan pembahasan teknis kembali dilakukan dalam dua hingga tiga pekan mendatang.
“Kesimpulannya tadi sudah ada 14 permasalahan yang tertulis yang disampaikan, kemudian ada yang disampaikan secara langsung dan dibahas. Yang bersifat teknis dari dinas tadi akan kita diskusikan lagi untuk menelaah,” kata Iswandi.
Menurutnya, persoalan kios tidak hanya berkaitan dengan jumlah ruang yang belum ditempati. Di lapangan terdapat pedagang yang memiliki beberapa kios di lantai berbeda sehingga tidak seluruhnya dapat dioperasikan. Kondisi tersebut juga menimbulkan tambahan beban operasional bagi pedagang.
Penataan antara pedagang grosir dan eceran turut menjadi bagian yang perlu diperjelas. Pemerintah dan pedagang dinilai harus memiliki indikator yang sama dalam menentukan kategori usaha agar penempatan kios tidak menimbulkan persoalan baru.
“Indikatornya grosir itu apa, indikatornya eceran itu apa. Karena di lapangan ada juga yang sebenarnya dia grosir ngaku eceran atau kebalikannya. Nah, ini harus disepakati dulu,” jelasnya.
Selain keterisian dan penataan kios, sejumlah fasilitas Pasar Pagi turut dievaluasi. Di antaranya usulan penambahan tangga dan eskalator berjalan di bagian luar gedung yang akan dikaji secara teknis oleh Dinas PUPR. Persoalan parkir hingga informasi adanya permintaan biaya untuk perbaikan atau penerangan listrik juga masuk dalam pembahasan.
DPRD turut mendorong komunikasi antara pemerintah dan pedagang dilakukan lebih rutin. Pertemuan antara Disdag dengan perwakilan pedagang direncanakan berlangsung setiap dua pekan untuk membicarakan perkembangan persoalan di lapangan dan mencari penyelesaian bersama.
“Yang terpenting dari semua ini suasana sudah mencair karena selama ini masalahnya kan hanya komunikasi. Kita komunikasi, termasuk jadwalkan nanti dua minggu sekali kita ngopi bareng kepala Dinas Perdagangan dan perwakilan pedagang supaya cair,” ujarnya.
Iswandi berharap evaluasi tidak berhenti pada inventarisasi persoalan, tetapi menghasilkan langkah konkret untuk meningkatkan keterisian kios dan jumlah pengunjung. “Intinya tadi kita enggak usah bicara ke belakang, kita mau bicara ke depan gimana Pasar Pagi ini bisa ramai, ekonomi bergerak, pedagang senyum, pembeli juga ramai. Jadi, kita sekarang bicara solusi,” tegasnya. (sal)