Dulu Jadi CEO di Layar Kaca, Kini Jualan Sayur di Pasar, Aktor Ini Tergusur Gelombang AI

Aktor China, Xu Peng. (Ist)

Gemanusantara.com– Nasib Xu Peng berubah hanya dalam hitungan bulan. Aktor yang dulu sibuk menjalani syuting hingga belasan jam sehari itu kini menghabiskan waktunya berjualan sayur di pasar tradisional. Bukan karena skandal atau sepinya tawaran bermain film, melainkan karena pekerjaannya perlahan digantikan oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dilansir dari CNBC, Rabu (29/7), Xu Peng merupakan aktor berusia 30 tahun lulusan Central Academy of Drama. Namanya dikenal lewat peran-peran sebagai CEO dingin dalam drama pendek vertikal yang sempat menjadi fenomena di China.

Sebelumnya, Xu juga pernah membintangi sejumlah serial televisi. Namun saat tren drama mikro meledak pada 2025, ia memilih fokus ke genre tersebut setelah mendapat banyak dukungan dari para penggemarnya.

Keputusan itu sempat menjadi titik balik dalam kariernya. Berkat kemampuan aktingnya, Xu terus dipercaya menjadi pemeran utama hingga harus menjalani syuting selama 15 hingga 16 jam setiap hari.

Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Seiring pesatnya perkembangan AI, industri drama pendek di China berubah drastis.

Pada kuartal pertama 2026, sekitar 128.000 drama pendek dirilis di China. Dari jumlah itu, sekitar 122.000 judul atau lebih dari 95 persen diproduksi menggunakan teknologi AI.

Perubahan tersebut membuat kebutuhan akan aktor manusia merosot tajam. Setelah menyelesaikan proyek drama pendek terakhirnya awal tahun ini, Xu meninggalkan Hengdian, Provinsi Zhejiang, yang dikenal sebagai pusat industri film dan televisi China, lalu pulang ke kampung halamannya di Provinsi Shandong.

Kini, kesehariannya diisi dengan membantu sang kakek berjualan sayur di pasar tradisional. Dari yang sebelumnya berdiri di depan kamera, Xu kini mengendarai kendaraan listrik keluarga untuk mengangkut hasil panen dan menjualnya kepada para pembeli.

Kepulangannya sempat mengundang perhatian warga. Bahkan, beberapa penggemarnya rela datang ke pasar hanya untuk berfoto dengannya.

Meski mengalami perubahan besar dalam hidup, Xu mengaku tetap menerima keadaan.

“Menjadi aktor hanyalah sebuah profesi. Jika tidak ada pekerjaan akting, saya akan mencari cara lain untuk mencari nafkah. Selama saya memperoleh penghasilan dengan cara yang jujur melalui kerja keras sendiri, tidak ada rintangan yang tidak bisa saya lewati,” ujarnya.

Xu juga menegaskan dirinya belum benar-benar meninggalkan dunia seni peran.

“Meski profesi saya berubah, saya tetap orang yang sama,” katanya.

Xu bukan satu-satunya yang terdampak. Media di China melaporkan, ledakan produksi drama pendek berbasis AI telah memengaruhi hampir dua juta lapangan pekerjaan di industri tersebut.

Padahal sebelumnya, aktor papan atas drama pendek bisa memperoleh bayaran hingga 20.000 yuan atau sekitar Rp45,4 juta per hari. Kini, banyak di antara mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan meski hanya dibayar sekitar 1.200 yuan atau Rp2,72 juta per hari.

AI kini digunakan hampir di seluruh tahapan produksi, mulai dari penulisan naskah, pembuatan karakter digital, hingga proses penyuntingan. Dengan teknologi tersebut, sebuah drama pendek dapat diselesaikan hanya dalam hitungan hari dengan biaya yang jauh lebih murah dibanding produksi menggunakan aktor manusia.

Meski demikian, Xu belum menyerah mengejar mimpinya. Ia berencana membuka pelatihan akting sekaligus tetap memproduksi drama pendek yang diperankan manusia. Baginya, AI mungkin mengubah industri hiburan, tetapi tidak akan menghapus semangatnya untuk terus berkarya. (Nit)

Exit mobile version