Dulu Jadi Andalan, Atap Ijuk dan Rumbia Kini Kembali Disorot usai Pernyataan Prabowo

Presiden RI Prabowo Subianto. (Sekretariat Presiden)

Gemanusantara.com– Atap ijuk dan rumbia kembali menjadi perbincangan setelah Presiden Prabowo Subianto mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan seng dan asbes sebagai penutup rumah.

Dilansir dari detik.com, Prabowo menilai masyarakat Indonesia sejak dulu sudah terbiasa menggunakan bahan-bahan alami sebagai atap rumah.

“Aslinya bangsa Indonesia tidak memakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbia,” kata Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Sabtu (1/8/2026).

Lantas, seperti apa sebenarnya atap ijuk dan rumbia itu?

Atap ijuk dibuat dari serat hitam pohon aren yang dikenal kuat, lentur, serta tahan terhadap cuaca dan kelembapan. Sementara itu, atap rumbia dibuat dari daun pohon nipah atau rumbia yang telah dikeringkan sebelum digunakan sebagai penutup bangunan.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, mengatakan material tersebut pernah menjadi pilihan utama masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.

“Pada masa dahulu, seluruh rumah di Nusantara memakai atap berbahan dasar ijuk atau rumbia karena berbahan dasar alami,” ujar Teguh.

Meski demikian, ia menilai penggunaan kedua material tersebut sudah semakin jarang karena masyarakat kini lebih memilih bahan yang lebih praktis dan tahan lama.

“Banyak kelemahan dari bahan tersebut, seperti mudah terbakar dan rentan akan kebocoran,” jelasnya.

Meski sudah lama ditinggalkan, atap ijuk dan rumbia ternyata masih menyimpan daya tarik tersendiri. Selain dianggap lebih ramah lingkungan, material ini juga menjadi bagian dari identitas arsitektur tradisional Indonesia. (Nit)

Exit mobile version