Warga Swiss Ramai-ramai Cabut dari Gereja, Pajak 3 Persen Bikin Keanggotaan Makin Ditinggalkan

Gemanusantara.com – Bayar pajak atau keluar dari gereja. Pilihan itu kini dihadapi sebagian warga Swiss yang ingin terbebas dari pungutan khusus bagi anggota gereja yang diakui negara.

Fenomena warga meninggalkan gereja pun semakin besar. Bukan cuma karena persoalan pajak, keputusan untuk cabut dari keanggotaan juga dipengaruhi perubahan gaya hidup hingga berbagai skandal yang menyeret institusi keagamaan.

Dilansir dari CNBC, Selasa (11/8), pajak gereja di Swiss berlaku di sejumlah kanton dengan besaran sekitar 1-3 persen dari pendapatan. Warga yang masih tercatat sebagai anggota gereja wajib membayar pungutan tersebut.

Salah satu cara untuk menghentikan kewajiban itu adalah mengajukan pengunduran diri dari keanggotaan gereja.

Dampaknya terlihat dari jumlah warga yang benar-benar memilih keluar. Mengutip media lokal Le News, sebanyak 67.497 orang meninggalkan Gereja Katolik di Swiss sepanjang 2023. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Gereja Protestan juga mengalami hal serupa. Sekitar 39.517 orang tercatat meninggalkan keanggotaan pada tahun yang sama.

Jika digabungkan, hampir 107 ribu orang Swiss memilih meninggalkan gereja hanya dalam satu tahun.

Basel-Stadt menjadi salah satu wilayah dengan angka pengunduran diri paling tinggi. Data Institut Sosiologi Pastoral Swiss (SPI) mencatat tingkat warga yang keluar dari gereja di wilayah tersebut mencapai 4,5 persen.

Di Basel-Stadt, mekanisme pengunduran diri memungkinkan warga menghentikan keanggotaan sekaligus terbebas dari kewajiban membayar pajak gereja.

Laporan Religion Watch juga menemukan kecenderungan serupa. Tingkat warga yang meninggalkan gereja lebih tinggi di wilayah yang menerapkan pungutan tersebut.

Meski begitu, uang bukan satu-satunya alasan.

Swiss juga tengah menghadapi perubahan besar dalam kehidupan beragama. Sekularisasi membuat semakin banyak warga memilih menjauh dari institusi keagamaan. Sejumlah skandal di lingkungan gereja turut memperkuat keputusan tersebut.

Data demografis 2022 bahkan menunjukkan sekitar 34 persen penduduk Swiss mengidentifikasi diri sebagai ateis.

Jadi, ketika hampir 107 ribu orang memilih keluar dari gereja dalam setahun, ceritanya bukan sekadar soal menghindari pajak. Ada perubahan cara pandang warga Swiss terhadap agama dan institusi keagamaan yang ikut berada di balik fenomena tersebut. (Nit)

Exit mobile version