Sudaryono Ogah Dicap Tukang Copot Kepala Dapur MBG: “Bukan Sok Galak”

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. (Kompas.com)

Gemanusantara.com– Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono ternyata tidak mau dirinya dicap sebagai pejabat yang hobi main copot.

Sorotan itu muncul setelah sejumlah Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau pengelola dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) diberhentikan karena tersandung persoalan dalam menjalankan program tersebut.

Sudaryono menegaskan, setiap persoalan yang melibatkan pengelola SPPG tetap harus ditangani sesuai aturan. Ia mengaku tak ingin mengambil keputusan secara asal hanya demi terlihat tegas.

“Bukan sok galak atau sok garang main copot, enggak. Kita tetap pakai asas praduga tak bersalah,” ujar Sudaryono di JCC, Senayan, Jakarta, dikutip dari Kompas.com.

Menurut dia, pemberhentian bukan menjadi langkah pertama setiap kali muncul masalah. Ada mekanisme dan proses investigasi yang harus dilalui untuk memastikan apakah pelanggaran benar-benar terjadi.

Sudaryono juga mengaku selama sekitar sebulan memimpin BGN, dirinya masih terus membenahi pelaksanaan program MBG. Bukan cuma soal makanan yang sampai ke penerima manfaat, tetapi juga urusan dapur hingga tata kelolanya.

“Termasuk SOP rantai pasok, cara berbelanja, dan lain sebagainya,” katanya.

Di sisi lain, Sudaryono tak menampik jika ada pengelola SPPG yang justru berulah. Namun, ia meminta kasus yang dilakukan oknum tidak lantas membuat seluruh dapur MBG ikut dicap bermasalah.

“Jangan kemudian karena ada oknum dianggap semuanya seperti itu, enggak. Sebagian besar jalan bagus,” tegasnya.

Ia bahkan menyinggung adanya pengelola SPPG yang diduga pura-pura menjadi korban penipuan atau scam hingga terlibat judi online.

Untuk kasus semacam itu, BGN tidak akan asal menjatuhkan hukuman. Sanksi akan diberikan berdasarkan tingkat pelanggaran dan hasil investigasi.

“Manakala itu memang melanggar hukum dan terbukti secara investigasi kita, kita tidak segan-segan untuk kita copot dan kita berhentikan status ASN PPPK-nya. Ini bagian dari indisipliner,” ujar Sudaryono.

Jadi, kata Sudaryono, tegas tetap jalan, tetapi main copot tanpa proses bukan gaya yang ingin diterapkannya dalam mengawal program MBG. (Nit)

Exit mobile version