
Gemanusantara.com– Ada yang unik di Karanganyar Eco Culture Night Carnival. Bukan cuma kostum dan kendaraan hias, rombongan warga Dusun Lor Pasar RW 5, Desa Matesih, Kecamatan Matesih, membawa patung tikus berukuran besar yang tampil cukup nyentrik.
Tikus tersebut memakai rompi oranye bertuliskan “Bukan Hewan Langka Tapi Dilindungi”. Tak hanya itu, si tikus juga terlihat memegang replika emas batangan. Di saku rompinya bahkan terselip kertas bergambar mata uang asing.
Kreasi itu sontak mencuri perhatian penonton yang memadati sepanjang Jalan Lawu.
Sodik, salah satu warga, mengatakan patung tersebut awalnya dibuat secara swadaya untuk meramaikan karnaval tingkat desa. Setelah itu, warga mendapat kesempatan mewakili desa untuk tampil di karnaval tingkat kabupaten.
Patung tikus itu dibuat dari bambu, kertas, dan daun pakis yang diberi warna hitam untuk menyerupai bulu. Pengerjaannya memakan waktu sekitar 15 hari.
“Tema sebenarnya mengenai ketahanan pangan. Merdeka pangan, merdeka dari sampah, dan merdeka dari hama. Salah satunya hama itu kan tikus,” kata Sodik, dikutip dari Kompas.com, Jumat (21/8/2026).
Namun, supaya pembuatannya lebih praktis sekaligus terlihat lebih menarik, warga menambahkan sejumlah ornamen yang sedang ramai di media sosial.
Salah satunya rompi oranye. Menurut Sodik, penggunaan rompi juga membuat warga tak perlu terlalu lama membuat bagian bulu tikus dari daun pakis.
Sementara replika emas batangan dipilih karena sempat ramai diperbincangkan di media sosial terkait emas seberat 74 kilogram.
Soal tulisan “Bukan Hewan Langka Tapi Dilindungi”, Sodik mengaku memang dibuat untuk lucu-lucuan.
“Di media sosial sering muncul kaos bergambarkan tikus kemudian bertuliskan seperti itu. Akhirnya teman-teman, coba ditulis sajalah buat lucu-lucuan,” ujarnya.
Hasilnya, konsep ketahanan pangan yang awalnya serius justru berubah menjadi patung tikus yang sukses bikin warga dan penonton karnaval melirik. Kreatif juga, ya. (Nit)