
Gemanusantara.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali jadi bahan perbincangan. Kali ini bukan soal siswa sekolah, melainkan usulan agar penderita tuberkulosis (TBC) juga ikut menerima manfaat program tersebut.
Ide itu datang dari Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Menurutnya, pasien TBC membutuhkan asupan gizi yang cukup agar proses pemulihan berjalan lebih cepat. Apalagi, pengobatan TBC bisa berlangsung hingga berbulan-bulan dan kondisi tubuh pasien umumnya sedang tidak prima.
Namun usulan tersebut langsung menuai respons dari DPR. Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris menilai rencana itu kurang realistis jika diterapkan. Ia mempertanyakan bagaimana mekanisme penyaluran makanan kepada pasien TBC, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari dapur MBG.
Tak hanya soal distribusi, Charles juga menyoroti risiko penularan karena TBC merupakan penyakit menular. Ia bahkan mempertanyakan apakah wadah makanan MBG nantinya akan digunakan kembali setelah dipakai pasien TBC.
Menurut Charles, kebutuhan gizi pasien TBC lebih tepat diberikan melalui puskesmas yang sudah tersedia hampir di setiap wilayah. Dengan begitu, bantuan bisa lebih terarah tanpa harus membebani skema MBG yang selama ini difokuskan untuk kelompok tertentu.
Di sisi lain, Menkes Budi menegaskan TBC masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Ia menyebut lebih dari 100 ribu orang meninggal akibat penyakit tersebut setiap tahun. Karena itu, menurutnya, dukungan gizi yang baik bisa menjadi salah satu senjata penting untuk mempercepat pemulihan pasien.
Wacana ini pun memunculkan perdebatan baru. Di satu sisi dianggap bisa membantu pasien TBC, namun di sisi lain dinilai sulit diterapkan. Pertanyaannya sekarang, apakah MBG memang solusi yang tepat atau ada cara lain yang lebih efektif untuk membantu para penderita TBC? (Nit)
*diolah dari berbagai sumber