
Gemanusantara.com — DPRD Kota Samarinda menyoroti persoalan mendasar dalam pengelolaan sektor seni, yang dinilai masih berjalan tanpa sistem dukungan yang jelas. Kondisi ini membuat banyak komunitas seni harus bertahan dengan kekuatan sendiri.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Yakob Pangedongan, mengatakan hingga saat ini belum terlihat pola pembinaan yang terstruktur dari pemerintah untuk memastikan keberlanjutan komunitas seni di daerah.
“Kita lihat selama ini berjalan, tapi belum ada pola yang benar-benar terarah. Mereka berkembang sendiri-sendiri,” ungkap Yakob, Senin (27/4/2026).
Menurutnya, ketiadaan sistem tersebut berpotensi membuat pengembangan sektor seni tidak optimal, meski di sisi lain banyak komunitas yang tetap aktif dan konsisten berkarya.
“Kalau tidak ada sistem yang jelas, ya mereka bertahan dengan kemampuan masing-masing. Itu yang terjadi sekarang,” katanya.
Ia menilai, dukungan terhadap komunitas seni seharusnya tidak bersifat sesaat atau hanya muncul pada momentum tertentu. Tanpa arah kebijakan yang berkelanjutan, potensi yang ada sulit berkembang secara maksimal.
“Bukan hanya kegiatan sesaat, tapi bagaimana mereka bisa terus berjalan dalam jangka panjang,” tegasnya.
Selain itu, DPRD juga menyoroti belum adanya standar yang jelas dalam pemberian dukungan, baik dalam bentuk program maupun anggaran. Hal ini dinilai membuat bantuan yang diberikan cenderung tidak merata antar komunitas.
“Harus ada ukuran yang jelas supaya tidak sporadis. Kalau tidak, ada yang dapat perhatian, ada yang tidak,” bebernya.
Yakob juga menegaskan, pembenahan sistem menjadi kunci agar sektor seni di Samarinda tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu berkembang secara konsisten.
“Kalau ingin maju, harus dimulai dari sistem yang rapi. Tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri,” tutupnya. (Nit)