
Gemanusantara.com – Pernah nggak sih kamu sadar kalau sekarang makin susah melihat kunang-kunang berkedip di malam hari? Padahal dulu serangga kecil bercahaya ini sering muncul di area persawahan, pinggir sungai, hingga kebun saat malam tiba.
Ternyata, hilangnya kunang-kunang bukan cuma soal perubahan zaman. Kondisi ini justru menjadi sinyal kalau kualitas lingkungan di sekitar kita mulai menurun.
Peneliti entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Kesumawati Hadi, menjelaskan bahwa kunang-kunang termasuk organisme yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Karena itu, keberadaan mereka sering dijadikan penanda apakah suatu ekosistem masih sehat atau tidak.
Sayangnya, jumlah kunang-kunang terus mengalami penurunan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan sebagian spesies kini berada dalam kondisi terancam, bahkan beberapa yang hidup di kawasan mangrove Asia Tenggara sudah masuk kategori rentan.
Ada banyak faktor yang membuat populasinya terus berkurang. Salah satu yang paling besar adalah semakin sempitnya habitat akibat pembangunan permukiman, kawasan industri, hingga alih fungsi lahan hijau.
Bukan cuma itu, cahaya lampu di malam hari juga ikut berpengaruh. Lampu LED yang terlalu terang membuat sinyal cahaya yang digunakan kunang-kunang untuk mencari pasangan menjadi sulit terlihat. Akibatnya, proses berkembang biak mereka ikut terganggu.
Ancaman lainnya datang dari penggunaan pestisida kimia, perubahan iklim yang memicu kekeringan, saluran irigasi yang disemen, hingga pesatnya pembangunan di berbagai wilayah.
Meski begitu, bukan berarti kunang-kunang sudah benar-benar hilang. Serangga ini masih bisa ditemukan di lokasi yang lingkungannya relatif alami, seperti kawasan mangrove, rawa, persawahan tradisional, tepi sungai yang masih bersih, hingga hutan tropis yang lembap dan minim cahaya buatan.
Kalau kerusakan lingkungan terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi berikutnya hanya mengenal kunang-kunang lewat foto, video, atau cerita di buku tanpa pernah menyaksikan langsung cahaya indahnya di alam.
Karena itu, menjaga habitat mereka bisa dimulai dari langkah sederhana. Misalnya, mengurangi penggunaan lampu luar yang terlalu terang, tidak menutup seluruh halaman dengan beton, menggunakan pupuk organik, serta menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar. Langkah kecil seperti ini ternyata bisa ikut membantu agar cahaya kunang-kunang tetap menghiasi malam di masa depan. (Nit)
*diolah dari berbagai sumber