Disdikbud Soroti Rendahnya Literasi Risiko Anak Usai Insiden Cedera di SD Samarinda Seberang

Kepala Disdikbud Kota Samarinda, Asli Nuryadin. (Gemanusantara.com)

Gemanusantara.com– Insiden cedera patah kaki yang dialami seorang siswa di SD Samarinda Seberang membuka perhatian baru bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda terkait minimnya pemahaman anak-anak terhadap risiko saat bermain. Kepala Disdikbud, Asli Nuryadin, menyebut bahwa informasi yang ia terima menunjukkan kejadian tersebut bukan berasal dari tindakan agresif, melainkan dari candaan fisik yang tidak terukur.

Asli melihat pola bermain anak-anak sekolah dasar yang cenderung spontan dan impulsif sebagai faktor utama yang kerap memicu insiden semacam ini. Menurutnya, perbedaan antara bercanda dan tindakan berbahaya sering kali belum benar-benar dipahami oleh anak-anak pada usia tersebut.

“Yang aku dapat laporan, mereka itu bermain, bercanda. Dalam proses itu mungkin ada tendangan-tendangan kecil, lalu mengenai kaki temannya sampai terjadi patah,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Sabtu (29/11/2025).

Asli menilai bahwa cara anak berinteraksi tidak bisa langsung dikaitkan dengan konsep bullying, karena mereka belum sepenuhnya memahami dinamika kekerasan yang terstruktur. Ia melihat kejadian tersebut sebagai pembelajaran penting mengenai bagaimana anak-anak mengenali risiko dalam aktivitas fisik sehari-hari.

Pihak sekolah sendiri telah melakukan mediasi cepat antara kedua keluarga, dan kesepakatan damai telah dicapai. Orang tua anak yang terlibat dalam candaan itu juga bersedia membantu proses pemulihan korban.

Selain menyampaikan perkembangan penyelesaian kasus, Asli menyoroti perlunya pendampingan lebih ketat. Menurutnya, guru dan orang tua memiliki peran besar dalam membimbing anak mengenali batas aman saat bermain.

“Anak-anak itu belum paham mana yang bisa membahayakan. Makanya tetap harus ada yang mengawasi,” katanya. (Nit)

Exit mobile version