
Gemanusantara.com – Penurunan debit Sungai Mahakam selama musim kemarau mulai menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda. Jika kondisi terus berlangsung akibat kemarau dan El Nino, air laut dikhawatirkan masuk semakin jauh ke aliran Sungai Mahakam hingga berpotensi mencapai kawasan Palaran.
Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan ancaman tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dapat berkaitan dengan ketersediaan air bagi masyarakat. Pemerintah provinsi bersama kabupaten dan kota di Kalimantan Timur (Kaltim) diminta memperkuat koordinasi menghadapi dampak musim kemarau.
“Tidak menutup kemungkinan ketika air laut sudah mulai masuk ke wilayah Handil dan nanti akan masuk ke wilayah Palaran, ini yang mungkin kita khawatirkan,” ujar Deni, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, penurunan debit sungai tidak hanya berpotensi menimbulkan persoalan bagi Samarinda. Dampak kekeringan telah mulai dirasakan di wilayah hulu, salah satunya Kabupaten Mahakam Ulu.
Kondisi sungai yang semakin surut di wilayah tersebut dinilai dapat memengaruhi akses masyarakat terhadap air sekaligus distribusi kebutuhan pokok. Mengingat sungai menjadi salah satu jalur transportasi utama, surutnya air berpotensi menghambat pengangkutan barang dan meningkatkan biaya distribusi.
Deni mengatakan pemerintah daerah perlu mengambil langkah terukur untuk menjaga ketersediaan air di wilayah hulu. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan Pemerintah Provinsi Kaltim adalah rekayasa cuaca untuk memicu hujan di kawasan yang mengalami kekeringan.
“Makanya saya bilang tadi yang pertama adalah mencegah karhutla, kebakaran hutan secara menyeluruh. Yang kedua adalah mencegah kekeringan atau melakukan antisipasi. Salah satunya mungkin nanti pemerintah provinsi bisa melakukan rekayasa cuaca, dalam hal ini untuk mengadakan hujan buatan di daerah hulu sana,” katanya.
Selain ancaman kekeringan dan intrusi air laut, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga harus menjadi perhatian bersama. Deni menilai penanganannya tidak dapat dilakukan secara parsial karena dampak kemarau dapat melintasi batas administrasi daerah.
“Yang pasti kita berharap dari pemerintah kota, kabupaten, seluruh Kaltim itu bersatu padu, bergotong royong untuk melakukan langkah-langkah penanganan terhadap bahaya karhutla itu tadi. Kemudian sesegera mungkin melakukan antisipasi terhadap bahaya kekeringan,” tuturnya.
DPRD Kota Samarinda berharap pemerintah provinsi dan seluruh pemerintah kabupaten/kota memperkuat kesiapsiagaan selama musim kemarau. Antisipasi sejak dini dinilai diperlukan agar penurunan debit Sungai Mahakam tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas, mulai dari kekurangan air, gangguan distribusi kebutuhan pokok, karhutla, hingga masuknya air laut semakin jauh ke wilayah Samarinda. (sal)